Bukan Guru Biasa

Bismillaahirrohmaanirrohiim,

“Dan katakanlah : bekerjalah kamu, niscaya Allah dan Rasul serta orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, dan diberitakan-Nya kepadamu tentang apa yang telah kamu kerjakan ” ( QS ; At-Taubah 105 )

Hidup adalah beramal, itulah ungkapaan yaang tepat bagi seorang mukmin dimanapun dan apapun profesinya. Hidup ibarat sebuah ladang yang harus selalu ditanami dan dipelihara, bukan asal menanam tanpa perencanaan yang baik, tetapi juga harus terus menerus diberikan perlakuan yang terprogram dengan seksama dan dengan memperhitungkan semua resiko yang akan terjadi. Hal itulah yang Allah perintahkan kepada seorang muslim, agar menghasilkan sesuatu yang terbaik dalam hidupnya.

Apapun posisi dan profesi seseorang dalam suatu hubungan sosial yang luas, adalah posisi yang saling menunjang satu dengan yang lain. Dalam suatu lingkungan berskala luas maupun sempit yang didalamnya terdiri dari komponen yang memiliki fungsi dan tugas masing-masing, seseorang tidak dapat mengklaim bahwa dialah yang memiliki posisi paling penting dalam suatu lingkungan kerja . Ibarat sebuah bangunan rumah, kita tidak dapat mengatakan bahwa ruang tamu adalah tempat yang paling penting dalam suatu rumah dan kamar kecil ( WC) adalah tempat yang tidak terlalu penting, tapi apa jadinya jika suatu rumah tidak memiliki kamar mandi atau sebaliknya.

Yang ingin saya sampaikan disini adalah jadikanlah kedudukan kita, apapun, dimanapun menjadi suatu posisi yang penting yang akan memberikan kontribusi positif pada lingkungan kerja maupun pada lingkungan yang lebih luas hingga pada level bernegara dan berbangsa. Jika petugas pengangkut sampah dikatakan sebagai posisi yang tidak penting, maka apa yang akan terjadi jika dalam satu minggu sampah tidak diangkut, tetntu seluruh pelosok kota akan menjadi berbau dan menghasilkan pemandangan yang tidak sedap.

Mengingat bahwa penulis berprofesi sebagai pendidik sekolah menengah,  maka pembahasan yang akan penulis ungkapkan adalah profesi yang ada di lingkungan sekolah yaitu guru. Digugu dan ditiru adalah ungkapan yang tepat bagi seorang pendidik, karena diharapkan dari seorang gurulah setiap siswa atau peserta didik mendapatkan contoh, inspirasi, dan pemikiran  yang baik. Tapi pada kenyataannya, kita sering merasa miris dan mengurut dada, tidak sedikit kabar tentang guru yang megajarkan anak didiknya berbohong dan melakukan hal yang tidak terpuji lainnya. Atau malah kita sebagai guru yang secara tidak sadar memberikan contoh yang tidak baik secara permanen kepada siswa, contoh : mengajar tidak tepat waktu, tidak mengkoreksi tugas, tidak mengembalikan ulangan dengan cepat, kurang bersemangat waktu mengajar, bertutur kata kasar, dan masih banyak lagi prilaku yang kurang terkontrol oleh kita yang akan di rekam secara permanen oleh peserta didik. Mengapa permanen? karena minimal seorang guru akan bertemu  peserta didiknya selama satu tahun, bukan waktu yang singkat.

Dari sumber yang dapat dipercaya, di Amerika pernah diadakan suatu penelitian tentang minat untuk menjadi guru, ternyata sangatlah kecil. Hal tersebut bukan lah disebabkan kecilnya penghasilan seorang guru, tetapi lebih pada takutnya seseorang tidak dapat menjadi contoh yang baik dan benar bagi peserta didiknya.

Jadilah ” Bukan Guru Biasa”, sebab hal ini akan memberikan kontribusi yang nyata bagi kemuliaan akhlak yang akan di miliki oleh generasi mendatang.

1. Bukan Guru Biasa terlambat ,

Ada lelucon yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat kita, yaitu jangan sampai terlambat dua kali, sudah terlambat datang jangan sampai terlambat pula untuk pulang. Ironis memang, kenyataan yang ada di hadapan kita… pada setiap acara, dari tingkatan RT sampai pada tingkat yang lebih atau paling tinggi, selalu saja ada cerita tentang keterlambatan.

Bagaimana dengan guru, sebagai sosok yang diharapkan menjadi agen perubah prilaku masyarakat indonesia pada umumnya. Penulis ingat betul , bagaimana hal yang berskala nasional pun tidak direncanakan dengan waktu yang semestinya. Kita bandingkan dengan ujian sertivikasi internasional ” cambridge” yang sudah menentukan tanggal ujian pada tahun 2014. Ada apa dengan kita sebagai bangsa yang besar yang tidak dapat memenej waktu dengan baik.

Seorang guru hendaknya merasa malu ketika terlambat hadir di sekolah dan di kelas. Perhitungan matang tentang waktu yang dibutuhkan dari rumah sampai sekolah atau dari ruang guru sampai ke kelas. Sudah selayaknya menjadi perhatian penuh sorang guru. Sehingga tidak ada keterlambatan yang tentu saja menjadi contoh langsung setiap siswa. Seandainya setiap pekan ada 2 kali pertemuan dan setiap pertemuan terlambat rata-rata 5 menit maka dalam 5 bulan ( kira-kira efektif pembelajaran ) seorang guru telah kehilangan = 5 x 4 x 2 x 5 menit = 200 menit ( jika 1 jam belajar 45 menit, maka waktu yag hilang adalah : 4,5 jam pelajaran. Masalahnya adalah buka hanya pada hitung-hitungan angka tapi lebih kepada contoh langsung yang diberikan oleh guru kepada siswa dalam hal menghargai waktu

to be continued.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s